Hanya Nostalgia





Hanya Nostalgia

Oleh : Diana Ovani
            Segelas kopi masih terlihat berasap, nasi goreng hangatpun telah tersedia diatas amparan taplak meja makan.
            “Kau tidak mau sarapan dulu mas?” Ucap Yumna, yang melihat suaminya berjalan lurus tanpa menoleh ke arah meja makan.
            Satyo hanya melirik sekejap dan lantas menggeleng, dengan berat hati Yumna menghampiri suaminya untuk mencium tangannya, lalu Satyo pergi dengan sangat terburu-buru menuju kantor.
            Pernikahan yang terjadi karena perjodohan itu memang terkesan sangat dingin, sudah hampir dua tahun Satyo dan Yumna berumah tangga, namun atmosfir diantara keduanya masih terkesan kaku, ditambah lagi, Tuhan belum menganugrahi pasangan suami istri itu keturunan. Bukan tanpa sebab, namun Satyo memanglah laki-laki yang sangat pendiam atau bahkan beku, untuk bicarapun hanya seperlunya saja.
            Lalu beberapa hari terakhir ini Yumna gelisah, Sikap Satyo semakin aneh, ia tak bicara dan jarang sekali menyentuh masakan Yumna, hai ada apakah gerangan? Hati Yumna bergejolak, pada siapa ia hendak mengadu.. bahkan ibunda tercinta yang menyarankan Yumna untuk bersedia menikah dengan Satyo, sudah dipanggil Yang Maha Kuasa beberapa bulan lalu.
            Malam ini Satyo pulang lebih malam dari biasanya, oleh karena Yumna terlalu lelah menunggu suaminya pulang, maka ia tertidur di sofa tanpa mengunci pintu. Satyo yang baru saja pulang dengan wajah datar, terenyuh hatinya melihat sang istri terlelap di sofa demi menunggunya, hanya saja tak berani mengganggu Yumna, Satyo malah memutuskan untuk tidak membangunkan Yumna, ia juga sangat merasa lelah, maka Satyo berniat membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, barulah nanti ia akan memindahkan istrinya dengan cara menggendongnya.
            Namun, belum juga Satyo selesai berpakaian, Yumna sudah terbangun duluan.. “Adakah kau datang mengucap salam mas, atau karena tak ingin bicara denganku, kau bahkan tak sudi untuk membangunkanku?” suaranya parau, penuh dengan emosi yang tertahan, hanya menghasilkan getaran yang hebat
 Yumna bicara tanpa menatap wajah Satyo, ia berbaring membelakangi suaminya, yang malah memilih diam dan duduk di hadapan laptopnya, air mata Yumna muulai menetes, sesak di dadanya memuai menjadi tangisan.
Malam semakin larut, Satyo telah menyelesaikan pekerjaannya.. ia lelah, dan merasa sangat bersalah pada istrinya, pekerjaannya yang menumpuk, memaksanya untuk lembur. Satyo beranjak dari tenmpat duduknya, lantas memandangi Yumna yang terlihat telah tertidur dengan posisi membelakanginya, Satyo pun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya juga, matanya sudah tidak bisa lagi menahan kantuk yang berat.
Tetapi diam-diam Yumna bangun, ia sangat penasaran dengan apa yang membuat suaminya begitu sibuk, hingga bahkann tidak memperdulikan istrinya sama sekali.. rasa penasaran Yumna memuncak, ia sudah lagi tak tahan untuk hanya berdiam diri, maka Yumna bertekad untuk membuka laptop Satyo, ada banyak dokumen di sana memang, hanya saja satu folder dengan nama “Tambatan Hati” paling membuatnya curiga, hatinya mulai tak karuan... mana mungkin suaminya yang begitu acuh padanya itu ternyata bisa menulis kalimat sangat manis, ia tak yakin bahwa akan menemukan bukti perselingkuhan suaminya sendiri, fikirannya melayang kesana kemari, mencari-cari letak kesalahan dan kekurangannya sebagai seorang istri, dadanya berdegup kencang tak beraturan “Ya Tuhan, aku tak kuasa jika benar mas Satyo dapat bermain cinta dengan wanita lain” rintih Yumna, tangannya bergetar hebat sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka folder tersebut..
Alangkah terkejutnya Yumna, ketika menemukan banyak potret dirinya di sana, air matanya mulai mengalir deras. Satu file dengan tanggal tepat hari itu, berjudul “Mengertilah” menandakan bahwa baru saja selesai di ketik, perlahan Yumna membukanya...
“Maaf sayang, aku tak banyak bicara, karena aku tahu bahwa kau masih dengan keterpaksaanmu, menikah denganku aku selalu canggung untuk memulai pembicaraan, tetapi bukan karena aku meragukan kesetiaanmu, maka aku lebih memilih untuk berdiam diri, bahkan aku berusaha menekan perasaanku, siapa pria yang kau bilang teman SMA mu itu? Lalu seenaknya saja menelfon dan menjemputmu? Aku tak berdaya, kau tak mencintaiku bukan? Mengertilah sayang, aku cemburu” usai membaca, Yumna tersenyum sangat lebar. Hatinya lega, karena jarang sekali bicara berdua, bahkan suaminya itu tak tahu bahwa sudah sejak satu tahun terakhir, Yumna berhasil dibuat jatuh cinta oleh Satyo, karena ketulusannya.
Lalu Yumna pun juga merasa sangat bersalah, karena tidak terbuka perihal Farhan, sahabat dekatnya sejak SMA, yang memang rajin berkomunikasi dengannya beberapa hari ini, hanya untuk meminta bantuan Yumna, mengantarnya dan memilihkan hadiah pernikahan bagi calon istrinya, karena Farhan berniat memberi calon istrinya itu kejutan. Maka, untuk menyeselaikan salah faham yang terjadi, Yumna pun mengetik balasan di laptop suaminya tersebut, menjelaskan banyak hal terutama soal Farhan, dan ia yang sangat takut juga kehilangan Satyo, kalimat terakhir dari bait ungkapan balasan Yumna tertulis...
“...Aku tunggu kau untuk memulai bicara padaku mas, aku sangat mengerti keadaanmu, maafkan aku dengan segala keegoisanku, semoga mulai saat ini kita akan saling terbuka dan bicara, jangan cemburu pada Farhan mas, ia sahabatku, dan hanya sebatas Nostalgia SMA ku, percayalah jua, kau telah sangat membuatku jatuh cinta, Love you so much..much..much more mas Satyo”
-Yumna istrimu, yang berhasil membuatmu cemburu-
Dari kejadian itu, maka Satyo berubah, ia tidak lagi menjadi laki-laki yang sangat pendiam, setidaknya ia mulai berani mengawali bicara pada istrinya, Yumna juga bersikap lebih manis pada suaminya, ia sangat senang karena sejak saat itu, Satyo senang sekali memuji masakan Yumna, dan berusaha pulang lebih awal, hanya untuk makan bersama istrinya tercinta, dirumah. Dari sanalah, keduanya sadar, bahwasanya komunikasi itu sangat penting dalam sebuah hubungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Antologi Puisi Karya Kahlil Gibran "Sang Kekasih"