“Lembah Asih"
Oleh : Diana Ovani
Semilir angin
sejuk menyapa senja di taman istana, seorang prajurit lari terengah-engah
menghampiri pangeran “ Mohon ampun pangeran, perampokan kembali terjadi di
desa, menurut keterangan rakyat, pelakunya si jubah hitam sama seperti kejadian
sebelumnya” pangeran hanya mengangguk dan lekas menunggangi kudanya untuk
menuju desa.
Tangisan beberapa
orang rakyat di desa, menyambut kedatangan pangeran “Katakan... kemana larinya
perampok itu?” pangeran mengibaskan jubahnya
Seorang rakyat
merundukan badannya “Mohon izin pangeran, dia berlari kerah hutan”
Pangeran langsung memacu kudanya dengan sangat cepat, kerarah
hutan...
Pangeran menghentikan laju kudanya “Tunggu!! Hai tuan, apakah anda
tidak memiliki harta untuk di belanjakan? Atau bahkan kekurangan makanan?
Katakanlah.. jangan membahayakan dirimu dengan terus merampas harta rakyat
kecil”
Seseorang berjubah hitam yang tengah berlari, dengan buntelan hitam
yang di panggulnya merasa tersinggung, seketika jua menghentikan larinya dan
membuka sarung pedangnya
Pangeran melompat dari atas kudanya
“Oh.. rupanya kau mau bermain-main denganku? Kemarilah, biar ku beri kau
pelajaran” senyum pangeran sinis, meremehkan
Dengan sangat bersemangat pangeran mulai memainkan pedangnya, namun
rupanya perampok itu lebih lihay dalam permainan pedang, merasa terdesak maka
pangeran pun mencari jalan keluar, satu lompatan panjang memebawa pangeran
berhasil membuka penutup wajah perampok itu, dari belakang. Seketika mata
pangeran terbelalak, hatinya berkecamuk dan menggerutu “Apa?? Mana mungkin dia
seorang wanita cantik jelita..” perampok itu langsung berlari dengan cepat,
meninggalkan pangeran yang masih terkesima, dan terlihat menahan nafas panjang.
“Hey nyai, tunggu!!! Aku ingin tahu alasan wanita secantikmu,
sampai hati melakukan hal sekeji itu?” teriak pangeran
Hangat mentari mulai terasa, namun Dhasima masih enggan
meninggalkan rumah, ia terus saja merasa ketakutan atas kejadian memalukan yang
menimpanya kemarin, sudah cukup lama ia mewarisi keahlian ayahnya, dalam hal
merampok. Tapi baru kali ini identitasnya terbongkar.
Tubuh Dhasima terasa sangat lelah dan tidak mengenakan, maka mau
tidak mau ia harus menuju sungai untuk menyegarkan tubuhnya, agar kembali
bugar. Langkah Dhasima tergesa-gesa, matanya mengawasi sekeliling, instingnya
terus waspada.
“Hahaa.. rupanya selain merampok, kau juga hanya gadis desa biasa
yang mau mencuci di sungai ya nyai?” sebuah suara tanpa jasad membuat dada
Dhasima berdegup kencang.
“Hey..Siapa kau? Jaga bicaramu ya, berani sekali kau menuduhku
sebagai perampok!!!” Dhasima menegapkan cara ia berdiri, agar terlihat lebih
menantang.
Maka betapa terkejutlah Dhasima, saat melihat siapa yang keluar
dari persembunyiannya dan berdiri di hadapannya.. “Apa kau mengenalku nyai?”
tanya pangeran dengan sebuah senyuman
Tubuh Dhasima menegang “Emhh.. apa yang kau inginkan? Mengapa kau
mengetahui tempat tinggalku, maksudku.. emmhh, bukankah aku sudah meninggalkan
harta yang aku rampok kemarin di hutan?... pergilah, aku berjanji tidak akan
lagi merampok di daerah kekuasaanmu” suara Dhasima bergetar.
“Haha, tidak semudah itu nyai” pangeran melipat kedua tangannya di
depan dada
“Lalu.. apa lagi??”
“Tenanglah, aku hanya ingin mengenalmu... siapa namau?”
Peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh Dhasima, ia mengurungkan
niatnya untuk mandi, dan lekas meninggalkan sungai menuju rumahnya, dengan
langkah cepat.
“Haha, sombong sekali kau nyai” cetus pangeran
Entah sudah berapa lama Dhasima bersembunyi di dalam rumah, ia
terus saja dikelilingi rasa bersalah, dan ketakutan yang mengekang
. “Hendak berapa
lama kau bersembunyi nyai? Aku akan terus menunggumu di luar, tenanglah kau
masih bisa menjadi orang baik, biarkan aku membantumu menyelesaikan
masalahmu..” suara pangeran masih terus
mengganggu kegelisahan Dhasima, ia bingung harus melakukan apa.
Hari sudah mulai
terang, gelap malam tergantikan oleh sinar mentari. Dhasima mulai memberanikan
diri untuk keluar rumah, memastikan manusia aneh yang terus saja mengikutinya
itu telah pergi, karena sejak semalam suaranya sudah tidak lagi terdengar.
...”Selamat pagi
nyaii, hahaaa”
Tunggu, Dhasima
mencari sumber suara itu, ketika Dhasima menengadahkan kepalanya... ternyata,
suara itu berasal dari atas pohon rindang di samping rumahnya.
“Mengapa kau masih
saja disini? Pergi, aku tidak ingin di ganggu!!” gertak Dhasima
“Bukankah aku sudah mengatakan, bahwa aku
hanya ingin mengenalmu, dan aku mengagumi permainan pedangmu, maukah kau
mengajariku bermain pedang?”
Dhasima
memalingkan wajahnya “Kurasa kau telah akan mengetahui jawabannya, tidak!!”
“Ayolah,, maukah
kau mengajariku??” Pangeran melompat turun dari atas dahan pohon
“Tidak”
“Ayolah..” nada
pangeran merayu
“Tidak” Dhasima
menggelengkan kepalanya
Tubuh pangeran
membungkuk dan tangannya memohon “Katakan mau, aku mohon” pangeran kembali berdiri,
“Emhh.. hey nyai lihatlah, ada kawanan burung indah di awan” pangeran menunjuk
kearah atas.
Seketika Dhasima
menoleh keatas.. dan menyadari bahwa dirinya telah ditipu.
“Haha.. kali ini
kau mengangguk bukan? Dan itu artinya, kau mau mengajariku” pangeran tertawa
geli dengan ulahnya sendiri.
Dhasima hanya melirik tajam ke arah pangeran “Dasar licik”.
Hari demi hari berganti, karena pangeran terus saja memaksa, maka
dengan sangat terpaksa pula Dhasima harus mengajari pangeran bermainpedang.
Suatu pagi, saat pangeran baru saja selesai memperaktikan pelajaran
dari Dhasima kemarin, segelas teh hangat telah tersedia di atas kursi kayu.
“Rupanya kau tak sejahat yang aku kira, tetapi hal apa yang terus
membuatmu enggan menyebutkan namamu hai nyai?” pangeran masih mencoba mengatur
nafasnya
“Tak perlu terus bertanya” jawab Dhasima ketus
“Yasudah.. begini saja, emh.. karena hari ini kau bersikap manis
dengan menyiapkan secangkir teh hangat untukku, maka aku akan memanggilmu
Asih... ya, nyai Asih yang jelita” senyumnya mengudara dengan nada suara
merayu.
Hentakkan kaki kuda terdengar mendekati tempat pangeran
beristirahat.
“Mohon ampun pangeran, baginda raja sangat cemas mencari pangeran
beberapa hari terakhir, seluruh pelosok kerajaan tengah dirundung kecemasan.
Mari kembali ke kerajaan, ibunda ratu sakit, gelisah mendengar berita pangeran
yang tak kunjung kembali setelah memburu perampok” seorang prajurit masih terus
membungkuk di hadapan pangeran.
“Oh, tenanglah prajurit, aku akan segera kembali ke istana...”
Dhasima menepuk pipinya, memastikan bahwa ia sedang tidak bermimpi.
Ternyata manusia aneh yang beberapa hari ini mengikutinya, adalah seorang
pangeran atau bahkan putra mahkota kerajaan.
“Hai nyai Asih, dengarlah...aku akan pulang ke kerajaan, untuk
bicara pada kedua orang tuaku bahwa aku akan kembali untuk mempersuntingmu,
tunggulah kedatanganku nyai Asih..” pangeran memacu kudanya meninggalkan
Dhasima yang masih berusaha keras mencerna kalimat pangeran Ragapati.
Waktu berjalan begitu lambat, gelisah terus menemani hari-hari
Dhasima, walau tak yakin dengan ucapan pangeran, tapi memang benar, Dhasima pun
diam-diam telah dibuat jatuh hati oleh pangeran yang suka sekali menggodanya
itu.
Beberapa ketukan lembut mendarat di pintu rumah Dhasima,
menyadarkan Dhasima dari lamunannya..
Tok..tok..tok.. “Nyai Asih, buka pintunya... ini aku Ragapati”
Dhasima begegas membukakan pintu
“Dengarkan aku nyai,.. ayah dan ibuku tidak merestui keinginanku
untuk mempersuntingmu, dengan alasan masa lalumu yang kelam... tetapi aku
yakin, bahwa kau akan berubah menjadi wanita yang baik untukku, aku hanya ingin
membawamu pergi untuk menikah dan tinggal bersama di tempat lain, lalu setelah
ayah dan ibu menyadari kau telah menjadi wanita yang baik... maka kita akan
kembali tinggal di istana” perlahan pangeran menggenggam tangan Dhasima, yang
dingin karena sangat gugup
Tanpa berfikir panjang, Dhasima melepaskan genggaman pangeran
“Maaf.. tapi aku tidak ingin, dan tidak bisa”
Kening pangeran mengerenyit “Katakanlah mengapa?” suara pangeran
melemah
“Aku.. maaf pangeran.. tapi aku.. tidak mencintaimu” tegas Dhasima,
menundukan kepala
Pangeran memejamkan matanya dan menarik nafas panjang yang berat
“Haha.. iya, betapa bodohnya diriku ini, oleh karena aku sangat percaya diri
sampai-sampai aku lupa bertanya, apakah kau mencintaiku atau tidak. Baiklah..
sekarang aku mengerti, dan aku tidak akan memaksamu” tawa pangeran
menyembunyikan kepiluan yang dalam.
Dengan berat hati, pangeranRagapati
meninggalkan Dhasima..
Mata Dhasima panas, air matanya tak lagi bisa terbendung, dalam
hatinya merasa sangat bersalah karena berbohong, bahwa ia tak mencintai
pangeran. Alasan kuat yang dikatakan ayah dan ibu pangeran untuk menolak
keinginan putranya itu benar. Siapa yang mau menikahkan anaknya dengan seorang
perampok? Belum lagi ia adalah pewaris tahta kerajaan, apa kata nanti rakyat,
ayah dan ibu pangeran akan menaggung malu atas aibnya. Lalu, siapa Dhasima yang
begitu beruntung bisa menikah dengan seorang pangeran?
Tak lama setelah pangeran pergi, beberapa prajurit datang menemui
Dhasima “Hai nyai, dimana kau sembunyikan pangeran? Katakanlah.. jangan kau
mencoba mempengaruhi pangeran agar mau menikah denganmu” prajurit yang sama
saat datang menjemput pangeran itu, mengacungkan pedangnya ke arah Dhasima
Tubuh Dhasima bergetar “Aku tidak pernah meminta pangeran untuk mau
menikah denganku, dan dengar baik-baik... aku tidak menyembunyikan pangeran”
“Pembohong!! Sudah kau perampok, katakan saja kemana perginya
pangeran? Ia pasti bicara padamu sebelum pergi, atau kami akan melukaimu”
“Aku tidak tahu...”
“Baiklah... ayo ikut kami” para prajurit membawa paksa Dhasima
Belum jauhpangeran
pergi, fikirannya tertuju pada Dhasima, ia takut para prajurit istana akan
menyakiti Dhasima, karena tahu pangeran melarikan diri dari istana untuk
menemui nyai Asih, terlebih jika pangeran tak kembali ke istana dengan segera.
“Nyaii.. dimana
kau??? Nyaii Asih, dengarlah ini aku Ragapati... keluarlah, temui aku” teriakan
pangeran tak mendapat jawaban, membawa kecemasan menjalar keseluruh tubuh
pangeran, ia turun dari kudanya dan mencari keberadaan Dhasima,
Hingga salah seorang rakyat desa yang ia tanyai menjawab “Benar
pangeran, tadi kami melihat para prajurit istana membawa paksa seorang gadis ke
arah lembah”
Apaa?? tubuh pangeran bergetar kencang... tanpa berkata apapun lagi
ia memacu kudanya, menuju lembah di dekat sungai Cikapuas. Matanya panas dan
tangannya mengepal, air mata pangeran tak dapat lagi tertahan...
“Tidak!!! Apa yang mendasari kalian untuk membunuh gadis itu???
Katakan!!!” pangeran mengeluarkan amarahnya, menjerit kencang dan lantas
menghantam para prajurit dengan pukulan keras, lalu tubuh pangeran lemah.. ia
tertunduk lemas melihat jasad Dhasima yang terbujur kaku bersimbah darah,
dihadapannya.
“Demi dewa pemelihara alam... aku murka!!!! Siapa ayah dan ibuku
yang semua orang sebut penguasa kerajaan, ternyata sangat keji.. membunuh
wanita yang sangat aku cintai... maafkan aku nyai Asih, maafkan aku telah
membuatmu seperti ini, biar saja mereka merenggut nyawamu, dan akupun akan ikut
denganmu” pangeran menusukkan pedangnya ke arah perutnya, hingga darah mengalir
deras, dan nafas pangeran berhenti seketika.
Para prajurit yang selamat, membawa jasad pangeran dan Dhasima
menuju istana, menyampaikan berita duka pada baginda raja dan ratu, maka amat
menyesalah mereka melarang putra pewaris tahtanya menikahi gadis pujaannya,
karena mereka baru menyadari bahwa putranya sangat mencintai gadis itu, hingga
pangeran rela mati bersamanya.
Lalu karena sang prajurit pernah mendengar pangeran menyebut gadis
itu dengan nama Nyai Asih, maka baginda raja dan ratu sepakat untuk menamai
lembah itu dengan nama “Lembah Asih” untuk mengenang kisah cinta putra semata
wayangnya yang amat tragis.
Komentar
Posting Komentar