Tangisan Hujan



Tangisan Hujan
                                                                                                          Oleh : Diana Ovani
Sudah lebih dari 2 jam aku menunggu ayah di halte depan sekolah, kalau bukan karna ayah melarangku pulang sendirian, mungkin aku sudah naik mobil umum sejak tadi. Sore ini memang hujan turun cukup deras, mengalir senada dengan alunan rasa jenuhku. Tapi ayah kemana? Tidak biasanya dia telat menjemputku, kekhawatiran menjalar keseluruh tubuhku, aku takut terjadi sesuatu padanya.
Dibalik guyuran hujan aku terus memandang kearah kanan, berharap ayah segera muncul dari sana dan melepas semua rasa khawatir yang bercampur  jenuh dalam dadaku. Tunggu, siapa laki-laki itu? Dia berjalan sangat santai sambil tersenyum di bawah hujan deras.
“Hey, hujan mas.. kenapa tidak berteduh?” suaraku agak teriak, untuk melawan gemuruh hujan
laki-laki yang melintas di depanku itu terkejut dan menoleh.
“Sini, berteduh dulu...” aku melambaikan tangan.
Dia tersenyum, lalu melangkah ke arah halte dan duduk disampingku
“Kamu lagi nunggu seseorang?” dia membuka pembicaraan
“Iya, ayah gak biasanya telat jemput. Eh tapi ngomong-ngomong kenapa masnya hujanan?”
Dia tertawa kecil “Haha Jangan panggil mas ah, tua banget kesannya.. oh ya, kenalin namaku Beyno” dia menjulurkan tangannya yang basah
“Keyla” aku menyambut tangannya yang sangat dingin itu
“Beyno, kamu belum jawab pertanyaanku tadi”
“Emmh.. soal kenapa aku hujanan ya? Jadi Keyla, aku suka hujan dan dulu waktu kecil ibu sering melarangku hujanan, katanya takut sakit haha, nah sekarang dia nyerah.. karena aku udah gede jadi ibu gak bisa lagi ngelarangku untuk hujanan”
“Haha, lucu banget si.. masa kecil kurang bahagia kayaknya” aku terwata geli
“Hahaa, iya bener.. tapi selain itu ada banyak hal lain yang membuat aku suka hujan” senyumnya memudar, dia menghadapkan wajahnya kearah turunnya hujan  
“Hujan mengajarkan kita arti keikhlasan dia rela untuk terus jatuh kembali walau sudah tahu rasanya sakit, dia memberikan kehidupan pada makhluk-makhluk Tuhan, dia membawa cahaya setelah datangnnya gelap, dan yang paling penting buat aku, hujan bisa menyembunyikan kesedihan, karena kalau kita menangis dibawah hujan maka air mata akan menyatu dengannya”
Aku menatapnya dan merasakan getaran dalam ucapannya, lalu mematung untuk beberapa saat
“Hey, aku curhatnya kepanjangan ya? Jadi bikin kamu ngelamun haha”
Aku terhenyak dan tertawa untuk menutupi malu, entah berapa lama aku menatapnya dalam diam.
“Kig..Kig Keyla, ayo pulang” suara klakson motor berasal dari depan halte, terlihat ayah mengenakan mantel dan helm
“Eh ayah, Keyla kira tukang ojeg hehe” aku meraih tongkat dari bawah, karena tadi sempat terjatuh, lalu mengenakannya untuk menopang kaki kananku berjalan perlahan mendekati ayah
Beyno tercengang menatapku dan menelan ludah lalu tersenyum kecut “Perlu aku bantu?” dia berdiri, meraih tanganku dan membantuku berjalan
“Makasih Beyno, aku pulang dulu ya.. sampai ketemu lagi”
Ayah menarik gas motor, dan Beyno hanya melambai-lambaikan tangan sambil tersenyum.
***
“Siapa laki-laki tadi?” suara ayah menegang
“Oh, dia Beyno yah.. tadi gak sengaja ikut neduh juga” aku mencoba mencairkan suasana
“Jangan sampai ayah tahu kalau itu pacarmu, ayah gak suka... ayah kan sudah sering bilang kamu harus fokus belajar, gak boleh pacaran dulu. Ngerti kamu?” nada suaranya mengancam
“Ayah selalu memperlakukan aku seperti anak kecil” air mataku mulai mengalir
“Itu karna ayah sayang sama kamu!!!” dia membentak
“Ayah melarang aku main sama temen-temen, ayah melarang aku pulang terlalu sore, ayah melarang aku pulang sendiri, ayah melarang aku nginep di rumah temen, ayah melarang aku pacaran, ayah...” aku meninggikan suara sambil menangis tersedu
“Cukup Keyla!!! Kalau kamu gak mau nurut sama ayah, kamu mau nurut sama siapa? Hah” suara ayah menggema di segala penjuru ruangan.
Aku memejamkan mata dan mengusap air mata, lalu meninggalkan ayah menuju kamar, mengunci pintu tanpa berkata apapun, terdengar ayah mengetuk pintu dan meminta maaf, namun aku tak menghiraukannya. Air mata mengalir deras dipipiku, berjatuhan diatas bingkai foto ibu yang sedang aku tatap, andai ibu masih ada...
***
Pagi ini aku masih tidak mau berkata apapun pada ayah, aku masih kesal padanya.
Seperti biasa sepulang sekolah, aku menunggu ayah menjemput di halte, dan sore ini hujan kembali menemaniku. Aku masih kecewa karena ayah membentakku dengan sangat keras semalam, lalu air mata kembali berjatuhan dipipiku, sejenak aku teringat pada kata-kata Beyno bahwa hujan bisa menyembunyikan kesedihan, karena air mata akan menyatu dengan hujan.
Aku melangkah menuju pinggir jalan dan duduk di bawah guyuran hujan, aku menangis sejadi-jadinya.. membayangkan ayah yang marah, membayangkan senyuman ibu, dan hatiku bergejolak, ibuuu.... aku rindu sekali padamu, aku ingin dipeluk bu, ingin bercerita, ingin mengadu, aku butuh ibu sekarang.
Dalam pejaman mata, aku merasakan hujan berhenti membasahi tubuhku, aku menoleh keatas dan terlihat seorang laki-laki sedang memanyungiku.
“Kenapa kamu hujanan? Seragam kamu basah loh, kamu gak takut sakit?” Beyno tersenyum
Aku menggelengkan kepala dan menatap seragam putih abu yang aku kenakan basah kuyup.
“Ayo bangun, udah cukup kan hujanannya? Kamu mengigil” Beyno membantuku berdiri dan menuntunku berjalan menuju halte
 “Tunggu sebentarya..” dia berlari kecil ke arah mobil yang di parkir tak jauh dari halte, dan kembali dengan membawa jaket sport berwarna biru serta mengambil tongkatku yang tergeletak di pinggir jalan.
“Pake, biar gak terlalu dingin” dia memakaikan jaketnya ke punggungku
“Yakin ceritanya cuma sama hujan doang? Gak mau bagi cerita sama aku?” dia menoleh kearahku
Entah mengapa aku merasa begitu nyaman di dekatnya, mendengar kata-katanya dan menatapnya. Lagi pula laki-laki itu terlihat lebih tampan dari kemarin, mungkin karena wajahnya tidak terlalu basah, bola matanya berbinar penuh ketenangan, senyumnya dengan bibirnya yang tipis begitu mempesona, hidungnya bangir, semua menyatu menjadi wajah yang sangat indah. aku mulai menceritakkan kisahku padanya, tanpa rasa ragu dan canggung sedikitpun.
“Oh jadi sekarang kamu suka hujan juga nih hahaha?” dia tertawa terbahak
“Ya.. sedikit” aku tersenyum, menyadari bahwa Beyno terlihat lebih tampan saat tertawa.
“Boleh aku anter kamu pulang? Ini kan udah sore”
Aku berfikir sejenak, membayangkan betapa marahnya ayah ketika nanti melihat Beyno bersamaku
“Lama amat Key mikirnya, ayolah... tenang aku orang baik kok, bukan penculik” dia menggendongku dan memasukkanku ke dalam mobilnya, aku sempat menolak namun laki-laki itu menggendongku cukup kuat,
Sambil tertawa fikiranku melayang, bahkan ayah saja tidak pernah memperlakukan aku seperti ini. Perasaanku dipenuhi rasa senang yang berlebih, jantung saja terasa seperti hendak melompat keluar
“Beyno, tongkatku..” aku berteriak sambil tertawa kecil
“Siap Nyonya” Beyno pun ikut tertawa..
“Bey, obat siapa ini?” aku menunjuk beberapa bungkus obat yang tergeletak di dekat kaca depan mobil Beyno
“Oh... emmhh itu obat, oh ya punya mamah... mungkin dia lupa, maklumlah udah tua haha” aku ikut tertawa, dia selalu berhasil membuat aku bahagia.
Sampai di depan rumah, kebahagiaanku lenyap seketika... ayah terlihat sedang bersiap di atas motornya untuk menjemputku, dan aku meminta agar Beyno tidak keluar dari mobilnya. Perlahan aku turun dari mobil dan berjalan menuju pagar, Saat ini hujan memang sudah mereda.
“Keyla? Ayah baru aja mau jemput, Kamu pulang sama siapa??” ayah terlihat begitu kaget
“Emhhh, maaf ayah... aku... emmhh” Lututku bergetar dan mataku memanas
“Keterlaluan kamu Keyla..” ayah turun dari motornya dan berjalan kerarah ku
“Permisi Om” Beyno, sudah berdiri di sampingku sambil memasang senyum dan menganggukkan kepala
“Saya Beyno, maaf saya yang menawarkan diri untuk mengantar Keyla pulang, karena tadi di Halte sepi sekali, dan hari juga udah terlalu sore, saya gak tega melihat Keyla sendirian di Halte, jadi saya fikir lebih baik mengantarnya untuk pulang, om gak marah kan?” dia berkata sangat ramah dan sopan sambil terus tersenyum
Ayah terlihat menarik nafas panjang dan berat “Yasudahlah, makasih sudah antar anak saya pulang” wajah ayah masih terlihat kurang ramah “Keyla ayo masuk, cepat ganti baju nanti sakit lagi”
“Yah, Beyno bolehkan di ajak masuk dulu, kasian yah.. biar keyla buatkan teh hangat” aku memberanikan diri
“Gak usah Key, aku langsung pulang aja deh gak papa” Beyno menyambung
“Yah... bolehkann??” aku merengek
“Yaudah.. iya, boleh!” ayah terlihat terpaksa, tapi aku senang mendengarnya. Mungkinn ayah tidak akan bisa memarahiku di depan Beyno.
Ketika membuka pintu rumah, betapa terkejutnya aku melihat rumah di penuhi dengan hiasan pesta, balon dan pita warna warni. Lalu didinding ruang tamu tergantung tulisan “Happy Brithday Keyla” dan di meja terletak kue tar lengkap dengan lilin angka 17 yang menancap di atasnya. Tubuhku bergetar, kakiku lemas, jantungku berdegup kencang, lalu butiran air mataku berjatuhan silih berganti, berubah menjadi deraian tangis terharu dan bahagia.
“Jadi ini alasan ayah telat jemput keyla 2 hari ini?” aku membalikan badan ke arah ayah berdiri
“Selamat Ulang Tahun anak ayah, maaf selama ini ayah belum bisa jadi yang terbaik buat kamu” wajah tegas ayah berubah menjadi senyum pilu yang menyimpan berjuta kesedihan
“Keyla yang belum bisa jadi anak yang baik buat ayah, makasih banyak buat semuanya yah, maafin Keyla yang selalu ngebantah ayah, Keyla janji akan jadi putri yang lebih baik lagi untuk ayah” aku memeluk tubuh ayah erat-erat, menumpahkan segala yang mengganjal di dadaku.
Dua hari setelah kejutan dari ayah Beyno memberiku hadiah, sebuah buku Dairy berwarna Pink bergambar Hello Kitty yang indah, lengkap dengan gembok yang menggantung dan sebuah boneka Kerroppy yang lucu, dan dia tulis :
Ini aku kasih teman-teman baru buat kamu, biar kamu gak kesepiuan lagi, kamu bisa curhat sepuasnya, cerita panjang lebar sama Hello Kitty ini kalau aku lagi gak ada ya, dan kamu tau? Kerroppy ini bakal nemenin kamu hujan-hujanan, karena dia juga suka banget sama hujan, Happy Sweet Seventeen Keyla Nyonya Hujan
-Beyno-
Semakin hari,aku semakin merasa nyaman dan dekat dengan Beyno, lagi pula ayah tidak terlalu agresif sekarang, walau memang masih sedikit possesif, tapi ayah sedikit luluh dengan kebaikan Beyno, sekarang aku sering berbalas WA dengan Beyno, bercerita kesana-kemari dan dia sering datang kerumah hanya untuk sekedar main.
Tapi 3 hari terakhir Beyno menghilang, tidak ada kabar, tidak datang kerumah, pesan WA ku tidak pernah mendapat balasan dan telponku tidak pernah diangkat sebelum nomor hand phone nya tidak aktif. Hatiku berkecamuk, dadaku sesak dan dipenuhi kecemasan. Aku selalu berusaha meminta ayah menemani menunggu di halte biasa sebelum pulang, tapi usahaku tidak membuahkan hasil. Aku pesimis, rindu menggebu namun apa boleh buat? Hari-hari murung menyapaku kembali, apakah Beyno hanya menjadikan ku bahan permainan dan persinggahan di tengah waktu senggangnya, sejahat itu kah dia? Memberi kenyamanan lalu pergi tanpa pesan? Beyno jahat, jahat sekali!!!
“Ting –Teng” Suara pesan WA masuk, layar menyala dan satu pesan dengan nomor pengirim pebum dikenal, aku membukanya :
-Keyla, Beyno baru saja menjalani Kemmo Teraphy di R.S. Cipto, sejak siuman dia selalu menanyakan tentangmu, ini mamanya. Kamu bisa datang kesini sekarang?-
Tanganku bergetar dan aku terguncang, seluruh tubuhku lemas, tangis tidak bisa aku bendung lagi, mimpikah ini? Aku segera menemui ayah, dan menunjukan pesan itu padanya, memintanya mengantarku ke rumah sakit.
“Keyla” Mata beyno berkaca-kaca, rambut indahnya hilang sekarang, wajahnya terlihat menahan sakit, selang menjalar menutup lubang hidungnya, dan jarum impus tertancap pada punggung tangan kanannya, namun laki-laki ini masih saja berusaha tersenyum
“Bey, kamu bohong sama aku... kamu bilang itu obat mama kamu, kamu mendengarkan banyak ceritaku dan membuat aku selalu tertawa, seakan tidak pernah punya masalah. Lalu? Apa ini?” Aku terisak, dan tak tahu lagi harus apa selain menangis
“Maafin aku Key, aku cuma gak mau nambah beban buat kamu”
“Terus kalo kamu ilang tanpa kabar dan tiba-tiba liat kamu kaya gini, kamu fikir aku seneng?”
“Jangan nangis Key, aku gak mau liat kamu nangis. Please senyum... aku kuat dan akan cepet sembuh kalo liat kamu senyum” suara Beyno berat
“Maafin aku Beyno, aku udah mikir yang enggak-enggak tentang kamu. Aku fikir kamu cuma jadiin aku pelarian di waktu kosong, lagi pula aku fikir mana mau cowok keren dan kaya raya mau sama cewek cengeng pincang berkaki palsu yang kalo jalan aja harus pake tongkat kaya aku”
“Aku gak suka denger kamu ngomong kayak gitu,kamu cantik dan yang terpenting kamu baik, selalu bisa membuat aku melupakan semua masalahku itu udah lebih dari cukup buat aku” Beyno mengelus kepalaku
“Key, aku seneng banget bisa kenal kamu, belajar banyak dari kamu, dan aku ngerasahidup aku jauh lebih berarti, makasih banyak Keyla” air mata Beyno menetes.
Seminggu setelah itu, Beyno harus menjalani Kemmo Teraphy lagi, tapi kondisinya memburuk. Sel kangker di selaput otaknya sudah menginjak stadium 4 dan hampir sulit untuk diangkat, karena berbahaya bagi nyawanya. Tapi persetujuan Beyno untuk Kemmo Teraphy lagi membuat mamanya terpaksa mengizinkannya, karena Beyno sangat semangat dan yakin bisa sembuh. tapi sayang setelah itu kondisi Beyno malah terus memburuk dan akhirnya Beyno meninggal setelah sempat tidak sadarkan diri selama 3 hari.
Kini aku tak tahu harus suka hujan, karena mengingat kenangan bahagia bersama Beyno atau membencinya, karena setiap tetesnya selalu membawa kerinduan yang mendalam pada sosok laki-laki pecandu hujan, pemilik senyum memabukkan, Beyno Haryawan. Hujan akan selalu menjadi tangisan, Tangisan Hujan milikku yang penuh kerinduan untuk Beyno.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Antologi Puisi Karya Kahlil Gibran "Sang Kekasih"